Sinergi UNPERBA dan Universitas AKPRIND di Desa Siwarak: Dorong Hilirisasi Nanas Madu, Air Siap Minum, hingga Mitigasi Longsor Berbasis IoT

PURBALINGGA – Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA) bersama Universitas AKPRIND Indonesia Yogyakarta resmi menggelar program pemberdayaan masyarakat terpadu di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun 2026, kedua perguruan tinggi ini menghadirkan sejumlah Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk mengoptimalkan potensi agribisnis nanas madu, menyediakan instalasi air siap minum, serta memperkuat mitigasi bencana tanah longsor.

Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Ditjen Risbang, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini dirancang untuk menjawab tiga tantangan utama warga Desa Siwarak sekaligus: peningkatan nilai ekonomi komoditas lokal, kemandirian akses air bersih, dan perlindungan warga di kawasan rawan bencana.

Ketua Tim Pelaksana dari UNPERBA, Afif Hendri Putranto, S.P., M.P., menjelaskan bahwa program ini mengedepankan pendekatan terpadu yang menyelaraskan aspek ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

“Pengembangan potensi desa perlu dirancang secara menyeluruh. Pemrosesan nanas madu membuka peluang peningkatan pendapatan warga, sedangkan penyediaan air siap minum menjadi langkah penting untuk menjamin konsumsi air sehat sekaligus menciptakan potensi usaha baru,” ujar Afif.

Hilirisasi Nanas Madu dan Digitalisasi Pemasaran

Sebagai salah satu sentra nanas madu di lereng timur Gunung Slamet, Desa Siwarak memiliki potensi pertanian yang besar. Agar komoditas tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tim Kosabangsa menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Sekar Abadi untuk mengolah nanas menjadi produk oleh-oleh bernilai jual tinggi.

Dalam pelaksanaannya, tim menyerahkan bantuan teknologi berupa mesin pengupas, pemarut, dan pengemas nanas. Selain membenahi aspek budidaya, higienitas produksi, dan manajemen usaha, warga juga dilatih memanfaatkan media sosial untuk pemasaran digital (digital marketing) guna memperluas jangkauan pasar.

Anggota Tim Pelaksana, Carolus Borromeus Krishna Sampurno, S.T., M.T., menambahkan bahwa spesifikasi mesin telah disesuaikan dengan kapasitas mitra, disertai pendampingan teknis terkait pengoperasian, perawatan rutin, hingga penanganan kendala mesin.

Inovasi Air Siap Minum Berbasis Pemantauan Real-Time

Pada sektor pemenuhan kebutuhan dasar, tim Kosabangsa mengoptimalkan potensi mata air yang dikelola oleh PAMSIMAS Tirta Jaya. Selama ini, warga setempat masih bergantung pada sumur pribadi dan jaringan PAMSIMAS yang harus direbus sebelum dikonsumsi, atau membeli air minum kemasan dan isi ulang.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim membangun instalasi pengolah air siap minum yang dilengkapi perangkat pemantau kualitas air berbasis General Packet Radio Service (GPRS). Teknologi ini memungkinkan pemantauan mutu dan kelayakan air dilakukan secara real-time.

Ketua Tim Pendamping dari Universitas AKPRIND Indonesia, Dr. Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., bersama anggota tim pendamping Dr. Dra. Suparni Setyowati Rahayu, M.Si., menegaskan bahwa selain menjamin ketersediaan air higienis di tengah kenaikan harga air bersih, warga juga dibekali pelatihan pengoperasian, pemeliharaan instalasi, hingga perencanaan skema pembiayaan operasional agar layanan dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.

Mitigasi Longsor: Perpaduan Sensor IoT dan Konservasi Vegetatif

Mengingat letak geografis Desa Siwarak yang berada di kawasan perbukitan rawan bencana—di mana peristiwa tanah longsor akibat curah hujan ekstrem pada tahun 2022 sempat merusak 48 rumah dan memaksa ratusan warga mengungsi—aspek mitigasi bencana menjadi prioritas krusial dalam program ini.

Anggota Tim Pelaksana, Victor Bintang Panunggul, S.P., M.P., menyebutkan bahwa pengurangan risiko bencana dilakukan melalui kolaborasi perangkat teknologi dan kesiapsiagaan masyarakat. Secara teknis, tim memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) tanah longsor berbasis Internet of Things (IoT) generasi terbaru. Perangkat ini tidak hanya mengukur parameter pergerakan tanah akibat curah hujan, tetapi juga dilengkapi kamera pemantau untuk memverifikasi kondisi lapangan secara visual.

Penempatan titik EWS dan analisis zona rawan longsor dilakukan secara presisi melalui pemetaan struktur bawah permukaan tanah dan potensi air bawah tanah yang dipimpin oleh pakar geofisika dari tim pendamping, Dr. Samuel Kristiyana, S.T., M.T.

Tidak hanya mengandalkan sensor digital, langkah mitigasi juga diperkuat secara ekologis melalui penanaman rumput vetiver dan pohon alpukat di titik-titik rawan pergerakan tanah.

Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu

Keberhasilan rancangan program Kosabangsa 2026 di Desa Siwarak ini ditopang oleh kolaborasi lintas disiplin ilmu—mulai dari agribisnis, teknik mesin, informatika, teknik elektro, hingga teknik lingkungan. Selain jajaran dosen dari kedua universitas, program ini turut melibatkan lima mahasiswa UNPERBA, yakni Rizal Alfani dan Aditya Pratama (Agribisnis), Dwi Prasisko dan Sefi Anggraeni (Teknik Mesin), serta Dimas Kuncoro Jati (Informatika). Keterlibatan aktif mahasiswa di lapangan diharapkan menjadi ruang belajar kontekstual dalam merumuskan solusi atas permasalahan nyata di masyarakat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *