Kita Indonesia, Denpasar — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) selama beberapa hari terakhir di Bali, yang berawal di wilayah Denpasar – Badung – Gianyar – Tabanan (Sarbagita) seolah menjadi alarm keras bahwa ketergantungan masif pada kendaraan pribadi kini membawa dampak beruntun.
Di tengah kemacetan yang melumpuhkan urat nadi ekonomi dan krisis energi lokal yang menguras jam produktif warga dengan antrean panjang di pom bensin, infrastruktur jalan kian tak berdaya menampung volume kendaraan.
Berbagai potret di lapangan serta evaluasi publik menunjukkan bahwa kehadiran layanan angkutan massal—mulai dari era Trans Sarbagita hingga integrasi Trans Metro Dewata (Teman Bus)—masih dinilai stagnan.
Tingkat jangkauan angkutan massal di kawasan ini belum optimal merebut hati masyarakat. Ironisnya, bus-bus sering kali melaju dengan kursi kosong, sementara jalanan di sebelahnya lumpuh oleh kemacetan dan kepanikan warga yang berburu BBM.
Masyarakat masih terlalu bergantung pada kendaraan pribadi dan tranportasi online karena dinilai lebih praktis, meski kini harus dihadapkan pada risiko kehabisan bahan bakar.
Sementara itu, transportasi publik masih menghadapi beberapa kendala seperti rute yang tidak melewati jalur pusat permukiman, jadwal yang tidak teratur akibat menghadapi kemacetan dijalan, serta kondisi trotoar yang tidak memberikan akses nyaman menuju halte serta kondisi halte yang masih jauh dari kelayakan.
Solusi Berbasis Data dan Kebijakan Tegas
Menjawab ironi transportasi massal dan krisis energi di kawasan Sarbagita.
Mencermati permasalahan ini, I Wayan Suardika, Dosen pengajar di Universiras Dwijendra saat dihubungi via aplikasi percakapan, Jumat (17/10/2026), menyatakan jika pembenahan tidak lagi bisa sekedar mengandalkan imbauan moral, melainkan harus berupa kombinasi antara rekayasa infrastruktur, adaptasi teknologi, dan kebijakan yang mengikat.
Langkah pertama yang paling realistis adalah menciptakan pangsa penumpang (captive market) melalui kebijakan instruksional.
“Pemerintah daerah harus berani mewajibkan aparatur daerah dan siswa sekolah untuk memanfaatkan transportasi umum,” tegas Suardika.
Langkah strategis ini tidak hanya akan mengurangi ribuan kendaraan abdi negara dan pelajar yang setiap pagi menyesaki jalanan, tetapi juga secara langsung menekan lonjakan konsumsi BBM harian di Bali.
Namun, ia menyadari bahwa regulasi tersebut harus diimbangi dengan pelayanan penunjang (Supportive Service) yang prima. Suardika menyoroti bahwa banyak rute saat ini masih mengawang dan tidak sesuai kebutuhan warga.
Oleh karenanya, ia mendesak agar pemerintah daerah cq. Dinas Perhubungan (Dishub) dapat menata ulang jalur transportasi umum sehingga pengguna dapat dengan mudah mengaksesnya dari simpul-simpul permukiman ke pusat pendidikan atau perkantoran.
Untuk memastikan rute tersebut tepat sasaran, Suardika menyarankan inovasi pemetaan silang.
“Dishub dapat mengambil data informasi riwayat perjalanan dari warga pengguna transportasi online. Dari big data tersebut, pemerintah dapat secara akurat membuat jalur transportasi umum yang benar-benar menjawab pergerakan mobilitas warga,” jelasnya.

Rute bus tidak lagi dibuat berdasarkan asumsi, melainkan titik jemput dan antar yang paling nyata permintaannya.
Sebagai penentu keberhasilan sistem ini, ia mengingatkan elemen krusial infrastruktur pejalan kaki. Suardika meminta agar pemerintah daerah memperbaiki sarana prasarana penunjang transportasi umum seperti halte dan trotoar sehingga memberikan kenyamanan dan jaminan keamanan bagi warga yang beralih menggunakan angkutan massal tersebut.
Lebih dari Sekadar Pindah Kendaraan
Jika solusi rasional dan terukur ini dieksekusi dengan baik, maksimalisasi penggunaan transportasi umum di Bali tidak hanya mengurai antrean BBM dan kemacetan jalan raya, tetapi juga menyentuh tatanan sosial masyarakat.
Terdapat lima tujuan esensial yang akan dicapai:
Mengurai Kemacetan Kronis:
Dengan beralihnya aparatur sipil dan masyarakat secara umum, volume kendaraan bermotor di jalan akan berkurang drastis, mengembalikan kelancaran mobilitas warga.
Kualitas Udara yang Lebih Sehat:
Mengurangi polusi asap kendaraan bermotor secara signifikan, menjaga keasrian Bali yang menjadi nilai jual utama pariwisata.
Mendisiplinkan Pelajar:
Terintegrasinya waktu pelajar dengan jadwal angkutan massal akan mendisiplinkan siswa agar tidak keluyuran di luar rumah setelah jam sekolah berakhir.
Menekan Statistik Potensi Kecelakaan Jalan Raya:
Mengurangi potensi dan angka kecelakaan lalu lintas, yang selama ini mayoritas didominasi oleh pengguna sepeda motor.
Menghidupkan Kohesi Sosial:
Menggunakan transportasi massal secara bersama-sama akan memecah sekat individualisme dan meningkatkan sosialisasi serta interaksi langsung antarwarga dari berbagai kalangan.
Menutup percakapan, I Wayan Suardika kembali mengingatkan jika kawasan Sarbagita kini dihadapkan pada momentum krusial. Meneruskan kebiasaan berkendara pribadi di tengah ancaman kelangkaan energi sama dengan mewariskan masalah yang lebih besar.
Sebaliknya, meramu ulang sistem transportasi umum secara menyeluruh adalah langkah penyelamatan agar Bali tetap nyaman, lestari, dan berdaya saing.