Antrean BBM Masih Berlanjut, DPD ORI Bali: Kalau di Jepang Pejabatnya Sudah Harakiri

Kita Indonesia, Denpasar – Krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali tampaknya belum menemui titik terang. Antrean panjang kendaraan masih terus mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kekecewaan warga pun makin memuncak tatkala janji manis penyelesaian dari para pemangku kebijakan tak kunjung terealisasi di lapangan.

​Kondisi ini memantik kritik tajam dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Rakyat Indonesia (DPD ORI) Provinsi Bali, Yuanpriana. Ia menyoroti perbedaan mencolok antara pernyataan para pejabat dengan realitas yang harus dihadapi rakyat setiap harinya.

​”Sebaiknya jujur dengan kondisi yang ada, apa sebenarnya yang terjadi, sehingga masyarakat bisa mengantisipasi,” tegas Yuanpriana.

​Ia menyinggung pernyataan sejumlah pejabat tinggi pada Selasa (13/10/2026) kemarin, yang mengklaim telah menyiapkan sekian ribu truk tangki dan menjanjikan puluhan SPBU akan beroperasi penuh selama 24 jam. Namun, kenyataan di jalanan membuktikan bahwa omongan pejabat tidak serta merta mengatasi masalah kelangkaan. Merasa geram dengan penanganan yang lamban, Yuanpriana melontarkan sindiran menohok.

​”Kalau di Jepang sudah harakiri,” ucap Yuan singkat.

​Fakta di lapangan memang jauh panggang dari api. Di SPBU kawasan Cokroaminoto misalnya, banyak pengendara motor yang harus menelan kekecewaan lantaran sudah ikut mengantre panjang namun mendapati pompa pengisian masih kosong.

​Ibu Suci, salah seorang pengendara motor yang ikut terjebak dalam antrean tersebut, mengaku sudah rela datang dan menunggu sejak pukul 5.30 WITA dini hari demi mendapatkan bahan bakar.

​”Yah ditunggu aja deh, sudah satu jam menunggu, kalau ditinggal nanti siang malah antreannya jadi lebih panjang,” ucapnya pasrah.

​Fenomena ini juga ramai menjadi sorotan di dunia maya. Berdasarkan pantauan siaran langsung (live) di platform TikTok, linimasa terus diisi oleh unggahan warga yang terjebak antrean sepanjang jalan raya. Secara ironis, tayangan-tayangan tersebut didominasi oleh wajah-wajah lesu warga yang belum sempat mandi demi mengamankan jatah BBM sebelum memulai aktivitas sehari-hari.

​Masyarakat kini hanya bisa pasrah mengantre sembari berharap ada langkah konkret yang segera diambil untuk menormalkan kembali pasokan BBM, bukan sekadar klaim yang tak terbukti di lapangan.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *