Kita Indonesia, Jembrana – Suasana khidmat menyelimuti pesisir Pantai Yeh Kuning, Kecamatan Jembrana, pada Minggu (5/4/2026). Siang itu di bibir pantai berpasir hitam, berkumpul sejumlah veteran yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) bersama Pemuda Panca Marga (PPM), Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (Stispol) Wira Bhakti denpasar dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.
Mereka hadir untuk melaksanakan peringatan sebuah peristiwa bersejarah penting di Bali, Pendaratan Rombongan Ekspedisi Pejuang Sunda Kecil ke Bali.

Nilai Sejarah di Balik Pantai Yeh Kuning
Kegiatan ini dilakukan untuk mengenang kembali momentum krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tanah Bali.
Berdasarkan penuturan salah satu saksi sejarah yang hadir, peringatan ini merujuk pada peristiwa pendaratan pasukan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh besar seperti I Gusti Ngurah Rai dan Pak Markadi.
Dalam pemaparan singkatnya mantan anggota pasukan dibawah komando I Gusti Ngurah Rai itu menjelaskan bahwa dalam misi pendaratan pasukan dari Jawa Timur ke Bali, akibat cuaca buruk dan kondisi laut yang tidak memungkinkan, rombongan sempat terbagi. I Gusti Ngurah Rai sempat kembali, sementara Pak Markadi melanjutkan perjalanan hingga sempat memicu pertempuran laut pertama di Selat Bali yang kini diakui sebagai sejarah nasional.
Rangkaian Acara
Peringatan dilakukan dengan sederhana namun penuh makna di pinggir pantai. Para peserta yang mengenakan seragam kebesaran veteran, kemeja seragam cokelat dengan baret kuning/jingga, melakukan prosesi tabur bunga dan doa bersama di titik yang diyakini sebagai lokasi pendaratan pertama pejuang pada 5 April 1946 silam.
”Dahulu tempat ini hanyalah pesisir tanpa nama, namun karena nilai sejarahnya saat para pejuang mendarat dan menggunakan jukung (perahu) untuk menyeberang, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai lokasi bersejarah yang harus dijaga,” ujar Ketua LVRI Jembrana, I Ketut Gde.

Sementara Ketua STISPOL Wira Bhakti Denpasar, Dr. I Wayan Sugiartana, ST.,MM. menyampaikan harapannya agar melalui kegiatan ini, nama Pantai Yeh Kuning tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai saksi bisu perjuangan fisik rakyat Bali dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Pantai Yeh Kuning ini seharusnya dapat mengungguli pantai lainnya di Bali. Selain pemandangan yang indah juga memiliki bobot value sejarah. Karena kisah perjuangannya tidak hanya berhenti di Pantai ini saja namun berlanjut menjadi sejarah berdirinya Markas Besar Oetama (MBO) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kodam IX Udayana. Saya berharap nantinya Monumen perjuangan ini dapat tetap terpelihara dan mengangkat Pantai Yeh Kuning menjadi destinasi wisata bersejarah,” Tutup Dr. I Wayan Sugiartana, ST., MM.
