TABANAN – Sebanyak 399 peserta didik Program Pembentukan Pemimpin Masa Depan (P3MD) Batch 1 Angkatan Sudirman Tahun 2026 mengikuti pembekalan nilai-nilai kejuangan dan patriotisme di Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana, Tabanan, Kamis (30/7/2026).
Para peserta yang berasal dari 58 Perusahaan Milik Negara (BUMN) tersebut mendapatkan materi langsung dari Ketua Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, I Gusti Ngurah Gede Yudana, serta Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Bali, I Gusti Bagus Saputera, S.H.
Komandan Batch 1 P3MD Angkatan Sudirman 2026, Marsma TNI dr. Anton Palaguna, S.E., M.M., M.Han., M.M.O.A.S., menyampaikan bahwa kegiatan yang dikemas dalam Widya Wisata P3MD ini dirancang sebagai bagian dari Program Presidential Future Leaders. Program ini bertujuan untuk memperkuat karakter, jiwa kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan calon pengelola aset negara.
”Mereka diproyeksikan menjadi pimpinan masa depan BUMN. Melalui program ini, diharapkan lahir para pemimpin yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keluhuran moral (best mind and best heart) dalam mengelola aset negara demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Anton Palaguna.
Lebih lanjut, Anton menjelaskan bahwa keteladanan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai dalam Perang Puputan Margarana sangat relevan dengan nilai kepemimpinan modern. Nilai-nilai utama yang ditekankan antara lain pantang menyerah, komitmen untuk tidak berkompromi terhadap penyimpangan, serta tidak meninggalkan tanggung jawab di masa-masa sulit.
Rangkaian acara di TPB Margarana diawali dengan upacara penghormatan, tabur bunga di pusara para pahlawan, penyerahan bantuan sembako kepada veteran pejuang, serta pertukaran cendera mata, sebelum dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi penanaman nilai kejuangan.

Gelora Semangat Kebangsaan I Gusti Ngurah Rai
Dalam materi pertama, Ketua YKP Bali I Gusti Ngurah Gede Yudana mengangkat tema “Gelora Semangat Kebangsaan I Gusti Ngurah Rai dalam Revolusi Fisik.”
Putera Sulung dari Pahlawan Nasional Brigjen TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai ini menjelaskan bahwa semangat kebangsaan merupakan sinergi antara nilai nasionalisme dan patriotisme, yakni menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan, disertai keberanian berkorban demi tanah air. Semangat tersebut tercermin kuat dalam perjuangan I Gusti Ngurah Rai yang menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah demi mempertahankan martabat bangsa.

Menurutnya, keteladanan I Gusti Ngurah Rai mewariskan berbagai nilai luhur kepada generasi penerus bangsa, antara lain semangat merdeka, nasionalisme, patriotisme, persatuan dan kesatuan, pantang menyerah, keberanian menghadapi ancaman, disiplin, serta kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara. Nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai pedoman bagi calon pemimpin Indonesia masa depan.
Yudana juga menjelaskan sejarah berdirinya Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) yang didirikan para pejuang kemerdekaan bersama Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 1951 dengan tujuan sosial dan kemanusiaan, termasuk perannya dalam mendirikan TPB Margarana sebagai monumen penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan.
Ia menegaskan bahwa semangat juang I Gusti Ngurah Rai harus terus diwariskan kepada generasi muda agar Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, termasuk praktik korupsi dan berbagai penyimpangan yang dapat menghambat kemajuan bangsa.
Beberapa aktivitas YKP antara lain :
1. Mendirikan STISPOL Wira Bhakti (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Wira Bhakti ).
2. Mendirikan Sekolah SMKS Wira Bhakti Denpasar dengan biaya terjangkau oleh masyarakat kecil, dan lulusan SMKS Wira Bhakti diberi kemudahan untuk melanjutkan ke STISPOL Wira Bhakti (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Wira Bhakti ) dengan bebas SPP selama satu tahun.
3. Melakukan pengabdian kepada masyarakat. Seperti pemberian oleh-oleh sembako dan penghijauan pada masyarakat, terutama masyarakat pejuang.
4. Menyelenggarakan Napak Tilas, yakni menelusuri perjalanan perjuangan kemerdekaan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.
5. Menyelenggarakan lomba-lomba yang bertema perjuangan kemerdekaan atau kepahlawanan.
6. Menyelenggarakan peringatan empat tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan.
LVRI Paparkan Sejarah Perjuangan dan Makna Pembukaan UUD 1945
Pada sesi kedua, Ketua LVRI Provinsi Bali I Gusti Bagus Saputera, S.H. memaparkan perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya perjuangan rakyat Bali yang bersatu di bawah komando Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana para pejuang Bali mempertahankan kemerdekaan dengan semangat persatuan dan pengorbanan yang tinggi. Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, para pejuang kembali menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu untuk menguasai Indonesia. Dalam situasi tersebut, I Gusti Ngurah Rai tampil sebagai pemimpin yang mampu menyatukan kekuatan rakyat Bali untuk mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketua LVRI juga menguraikan isi serta makna Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat cita-cita luhur para pendiri bangsa. Ia menekankan bahwa tujuan negara Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 harus menjadi pedoman moral dan arah kepemimpinan bagi para peserta didik yang kelak akan mengemban amanah sebagai pemimpin BUMN.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan manajerial dan intelektual yang baik, tetapi juga karakter kebangsaan yang kuat, integritas tinggi, serta keberanian mengambil keputusan demi kepentingan bangsa dan negara.
Menanamkan Nilai Kepahlawanan untuk Pemimpin Masa Depan
Kegiatan penanaman nilai Perang Puputan ini merupakan bagian dari upaya membentuk karakter peserta didik P3MD agar memiliki semangat pantang menyerah, tidak berkompromi terhadap penyimpangan, serta tetap bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi maupun bangsa.
Nilai-nilai tersebut diambil dari keteladanan perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan para pejuang Puputan Margarana yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peserta didik mengikuti dengan seksama materi yang disampaikan, sesekali mereka meneriakkan yel-yel yang memberi semangat. Pemberian materi akhirnya ditutup dengan menyanyikan lagu perjuangan “17 Agustus 1945” secara bersama-sama. Dengan penuh semangat, para peserta didik mengikuti lagu tersebut sebagai simbol komitmen untuk meneruskan cita-cita perjuangan para pahlawan dan mengabdikan diri bagi kemajuan bangsa Indonesia.